Congratulations!

[Valid Atom 1.0] This is a valid Atom 1.0 feed.

Recommendations

This feed is valid, but interoperability with the widest range of feed readers could be improved by implementing the following recommendations.

Source: http://krenungan.org/wordpress/feed/atom/

  1. <?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed
  2.  xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom"
  3.  xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0"
  4.  xml:lang="en-US"
  5.  xml:base="http://krenungan.org/wordpress/wp-atom.php"
  6.   >
  7. <title type="text">Kumpulan Renungan</title>
  8. <subtitle type="text"></subtitle>
  9.  
  10. <updated>2015-12-21T07:21:38Z</updated>
  11.  
  12. <link rel="alternate" type="text/html" href="http://krenungan.org/wordpress" />
  13. <id>http://krenungan.org/wordpress/feed/atom/</id>
  14. <link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://krenungan.org/wordpress/feed/atom/" />
  15.  
  16. <generator uri="https://wordpress.org/" version="4.7.5">WordPress</generator>
  17. <entry>
  18. <author>
  19. <name>Administrator</name>
  20. </author>
  21. <title type="html"><![CDATA[Mark Zuckerberg Speech]]></title>
  22. <link rel="alternate" type="text/html" href="http://krenungan.org/wordpress/2015/12/21/mark-zuckerberg-speech/" />
  23. <id>http://krenungan.org/wordpress/?p=611</id>
  24. <updated>2015-12-21T07:21:38Z</updated>
  25. <published>2015-12-21T07:21:38Z</published>
  26. <category scheme="http://krenungan.org/wordpress" term="M" /> <summary type="html"><![CDATA[Terjemahan pidato Mark Zuckerberg pendiri/pemilik Facebook di hadapan pengagumnya di China, semoga bermanfaat. Menjawab pertanyaan mengapa saya memperisteri seorang wanita berparas tidak cantik? Sy, Mark Zuckerberg dari Facebook, sy adalah orang yang diberitakan sebagai seorang anak muda kaya raya yang tidak punya berita gossip, seseorang yg sangat mencintai istri, dan si Mark yang mempunyai tampang [&#8230;]]]></summary>
  27. <content type="html" xml:base="http://krenungan.org/wordpress/2015/12/21/mark-zuckerberg-speech/"><![CDATA[<p>Terjemahan pidato Mark Zuckerberg pendiri/pemilik Facebook di hadapan pengagumnya di China, semoga bermanfaat.</p>
  28. <p>Menjawab pertanyaan mengapa saya memperisteri seorang wanita berparas tidak cantik?</p>
  29. <p>Sy, Mark Zuckerberg dari Facebook, sy adalah orang yang diberitakan sebagai seorang anak muda kaya raya yang tidak punya berita gossip, seseorang yg sangat mencintai istri, dan si Mark yang mempunyai tampang baby face. Hari ini sy ingin menggunakan waktu bbrp menit utk ngobrol dgn teman2 di China, istilah kalian Curhat.</p>
  30. <p>Sama halnya pada awal tahun ini saya pidato di Beijing Qing Hua University, saya berusaha semaksimal mungkin menggunakan bahasa Mandarin, namun karena keterbatasan kemampuan bahasa Mandarin saya, saya mohon maaf bila ada yang kurang berkenan dan berusaha berbicara sebaik mungkin.</p>
  31. <p>Kemarin dulu saya baru menjadi seorang ayah, teman2 seluruh dunia menyampaikan ucapan selamat kepada saya dan kami sekeluarga, saya sangat terharu, namun tidak sedikit teman chinese yang menyampaikan kecurigaan mereka, utamanya 2 pertanyaan tsb:</p>
  32. <p>1. Mengapa saya memperisteri seorang wanita tidak berparas cantik?<br />
  33. 2. Mengapa saya menyumbangkan harta/saham facebook saya sebesar USD 45 milliard, apakah utk menghindari pajak?</p>
  34. <p>Teman2 saya menganjurkan saya tidak usah menjawab pertanyaan2 yang beredar. Bill Gates, penyanyi terkenal Shakira dan teman2 saya berpendapat tidak perlu menjawab pertanyaan2 tsb.</p>
  35. <p>Saya mengerti pemikiran mereka, menggunakan perumpamaan yg digunakan filsuf terkenal China Zhuang Zi, yaitu kodok di dasar sumur tdk bisa diibaratkan sebagai laut, ulat di musim panas tidak bisa diibaratkan sebagai es.</p>
  36. <p>Mereka juga katakan, cara anda memandang dunia, dunia seperti itulah yang anda lihat. Anda yg tidak percaya keindahan dunia, dengan sendirinya anda tidak akan memiliki keindahan dunia.</p>
  37. <p>Banyak Chinese yg mempunyai berbagai modus, mirip banyak rumput belukar didalam hatinya, mereka enggan membuka hati agar bisa menerima sinar matahari yg begitu elok.</p>
  38. <p>Mereka(teman2 saya) bukan meremehkan kalian, hanya kwatir。 saya berpikir walaupun saya jelaskan kalian jg tdk mengerti, atau mungkin tdk mau mengerti, dengan demikian saya menjadi orang idiot, selain membuang waktu dan pikiran juga membuat mulut kering saja.</p>
  39. <p>Saat ini, zaman internet, walapun ulat musim panas belum pernah merasakan musim dingin, kita bisa menggunakan teknology masa kini membuat mereka merasakan musim dingin, begitupun kodok yg belum pernah melihat lautan, kita mampu membuat mereka merasakan seperti apa lautan. Saat ini berbagai hal dapat diwujudkan dgn tehnologi.</p>
  40. <p>Untuk itu saya putuskan menjawab 2 pertanyaan kalian. Sekaligus menjawab lbh banyak pertanyaan kalian, umpamanya, mengapa saya tidak membeli mobil mewah, dan juga mengapa selalu hanya memakai t shirt yang sama.</p>
  41. <p>Tahun ini saya bertemu ibu negara kalian saat mengunjungi Amerika, saat itu saya ngobrol dengan Jack Ma/Ma Yun (pendiri/pemilik Alibaba.com) dan Pony Ma/Ma Hua Teng (pendiri/pemilik Tencent/QQ/We Chat) perihal mengapa saya menikahi seorang wanita tdk berparas cantik. Saat itu saya belum menyumbangkan harta/saham facebook saya, jadi belum waktunya menilai sumbangan tsb utk menghindari pajak atau bukan. Saya hanya perjelas duduk persoalan tapi bukan memberi penjelasan. Saya tidak perlu memberi penjelasan hal2 pribadi saya. Namun saya tidak bisa menahan diri menjelaskan kepada Jack Ma dan Pony Ma perasaan dan pemikiran saya.</p>
  42. <p>Entah mereka berdua mengerti tidak apa yang telah saya sampaikan, saya menduga mereka belum sepenuhnya mengerti. Namun tidak apa2, saya akan mengulangi menjelasakan dgn detail kepada teman2 di China yang bersimpati ke saya.</p>
  43. <p>Saya nggak tahan menutupi kegembiraan atas kelahiran putri saya, entah kalian mengetahui tidak, sebelumnya, kami mempunyai pengalaman pahit yakni isteri saya mengalami 3 kali keguguran, sebelum ini kami sangat menginginkan mempunyai anak, namun isteri saya mengalami 3 kali keguguran</p>
  44. <p>Saat anda mengira segera mendapatkan anak, anda akan merasakan segalanya penuh harapan, anda mulai berpikir anak2 akan seperti apa, dan merencanakan segala sesuatu utk mereka di masa akan datang, namun kemudian, semuanya tidak terjadi.</p>
  45. <p>Teman2 sekalian! Apa kalian bisa membayangkan, sebagai seorang ibu lulusan jurusan kedokteran Harvard University dan seorang ayah yang kaya raya, namun 3x gagal untuk memiliki anak, kalian bisa bayangkan seperti apa perasaan dan pengalam kami. Sebagai pasangan suami isteri pada umumnya, saat ini kami begitu gembira mendapatkan anak dan juga begitu sedih saat dulu kehilangan anak karena keguguran. Kami saling berpelukan, saling mengasihi, saling mendukung, ber-sama2 melewati masa yang sulit, siang maupun malam.</p>
  46. <p>Pengalaman buruk yang kami alami, umumnya orang tidak akan membicarakan hal keguguran dgn orang luar, sama halnya anda mempunyai kekurangan, atau telah melakukan kesalahan yg menyebabkan hal tsb terjadi. Untuk itu anda cuman bisa menghadapinya sendiri.<br />
  47. Seorang lelaki yang begitu mendambakan menjadi seorang ayah, tapi mengalami 3x kegagalan, namun sekarang mimpi tsb telah menjadi keyakinan, saya sungguh tergugah.. Mohon doakan si kecil Max supaya sehat dan bahagia selalu.<br />
  48. Sekarang saya menjawab pertanyaan kalian. Pertanyaan pertama, mengapa saya memperisteri seorang wanita tidak berparas cantik.<br />
  49. Per-tama2 saya ingin membahas, apa itu wanita cantik, apa itu wanita tidak cantik..<br />
  50. Saya mempunyai banyak kesempatan bertemu berbagai wanita cantik, namun apa yang disebut wanita cantik kebanyakan berhati seperti kaca, jika sakit manjanya seperti seorang putri raja, dan juga penyakit angkuh, dan juga akan bertanya kepada saya mengapa begitu kaya namun tidak mau berganti mobil. Saya tahu tujuan mereka adalah mau pamer dilingkungan teman.</p>
  51. <p>Wanita demikian walaupun secantik apapun, bila sanubari nya hanya menuntut/meminta, tetap kelihatan jelek, jiwanya jg kotor. Wanita demikian barulah dikatakan sebagai wanita berparas jelek, diberikan gratispun saya tidak mau.<br />
  52. Kecantikan diluar akan berkurang nilainya seiring bertambahnya usia, namun kecantikan dari dalam akan bertambah nilainya seiring bertambahnya usia.<br />
  53. Dalam hal ini para ahli ekonomi di wall street pasti mengerti, makanya saya sama dengan mereka, tidak akan bersentuhan dengan benda yang secara cepat turun nilainya.<br />
  54. Apa yang saya sukai Priscilla Chan isteri saya?<br />
  55. Raut wajah seorang wanita adalah cermin hati sanubari seseorang, senyumnya memukau selamanya. Sejak hamil, Priscilla sama sekali mengabaikan perobahan yang terjadi pada raut mukanya akibat kehamilannya, tetap berpakaian sederhana, tanpa dandan, namum kebahagiaannya saya rasakan sepenuhnya dan juga nampak kepada orang lain.<br />
  56. Saya mencintai kesederhanaan Priscilla. Saya mencintai penampilannya : bersemangat namun bijak, berani namun penuh kasih, berjiwa pemimpin namun juga bisa mendukung orang lain. Saya mencintai keseluruhannya, saat bersamanya, saya merasa sangat nyaman dan relax.<br />
  57. Saya sama sekali tidak merasa Priscilla bersanjung kepada saya, selain memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi, dia juga memiliki kecerdasan emosi/sosial yg tinggi, jangan lupa bahwa Priscilla adalah lulusan jurusan kedokteran Harvard University, anda bisa coba test masuk universitas tsb, jurusan hukum, kedokteran, ekonomi adalah jurusan yang menjadi rebutan orang, walaupun lulus test masuk belum tentu anda bisa lulus penuh, kalau mau dikatakan bersanjung ,lebih tepat saya yang bersanjung kepada Priscilla bukan sebaliknya. Perkawinan ibarat sepasang sepatu, hanya yg memakainya tahu sepatunya nyaman dipake gak, Priscilla paling cocok buat saya, saya dan Priscilla adalah pasangan yg paling ideal di bumi ini, saya berkenalan dgn Priscilla saat antrian toilet, di mata Priscilla, saya adalah seorang kutu buku. Ini adalah jodoh.</p>
  58. <p>Di mata kalian, Priscilla ada wanita tidak cantik, namun di mata saya, dia adalah wanita cantik dan paling serasi dengan saya.<br />
  59. Saya tidak bs menahan diri memamerkan foto saya dgn Priscilla yg begitu berbahagia.<br />
  60. Dalam foto nampak saya dan Priscilla begitu bahagia, damai dan alami.<br />
  61. Tips bagi kalian: sebagian wanita hanya melihat keburukan orang lain, tidak melihat kecantikan orang lain, dengan demikian, kebahagian akan meninggalkan kalian, tidak berjodoh. Sebab, apa yang ada dalam hati itulah yang ada dalam kenyataan. Sekarang membahas tentang penghindaran pajak yang dituduhkan kepada saya.<br />
  62. Kalian berpikir, saya menyumbang USD 45 milliard apa utk pamer kekayaan atau menghindari pajak. Apa otak kalian atau otak saya yang bermasalah?<br />
  63. Apa yang kami sumbangkan USD 45 milliard berbentuk saham sebetulnya bukan nilai sebenarnya, tapi hanya nilai pasar, bisa lebih tinggi atau lebih rendah nilainya, ini tergantung pasar yang menentukan.<br />
  64. Dana yang kami sumbangkan untuk digunakan sebagai dana abadi untuk diinvestasikan ke sekolah dan rumah sakit.<br />
  65. Saat kelahiran anak kami, kami berkunjung ke rumah sakit, bermaksud untuk bisa ikut berkontribusi dalam dunia pengobatan.<br />
  66. Seiring perkembangan tehnology yang maju pesat, kami sungguh berharap 100 tahun mendatang, hampir semua penyakit dapat dicegah dan diobati. Saat ini, kebanyakan manusia meninggal akibat penyakit jantung, kanker, stroke, dan penyakit menular lainnya. Diharapkan berbagai penyakit tsb dapat teratasi dgn lbh cepat.<br />
  67. Saat menyadari anak kami dan banyak anak lainnya berkemungkinan bisa menghindari berbagai penyakit, kita semua punya tanggung jawab untuk mewujudkan impian tsb. Saya tegaskan sekali lagi, saya dan isteri saya akan berkontribusi semaksimal mungkin untuk tujuan tsb.</p>
  68. <p>Di Silicon Valley, &#8221; Mengubah Dunia &#8221; kata tsb bukan hanya sebuah slogan, ia merupakan sebuah keyakinan dan kekuatan. Mimpi kami berharap melalui usaha keras kami untuk memperbaiki kwalitas pendidikan, pengobatan, intergrasi dunia, untuk disumbangkan kembali ke masyarakat, mengubah dunia, membangun suatu dunia yang lebih baik untuk semua umat manusia.</p>
  69. <p>Teman2 sekalian, kami sedang melakukan upaya &#8220;Change The World&#8221;, apa yang telah kalian lakukan? Saya mendengar diantara kalian banyak mengeluh, saya ingin katakan bahwa tidak ada artinya mengeluh, tindakanlah yang lebih bermakna.</p>
  70. <p>Saya dan Priscilla menyumbangkan 99% saham kami di facebook, mendekati semua saham milik kami, apa kalian masih menganggap yang kami lakukan utk menghindari pajak? Apa masih ada maknanya menghindari pajak? Banyak teman2 di China yang kaya raya, mengapa mereka tidak ikut menyumbangkan 99% harta mereka untuk menghindari pajak?<br />
  71. Lagi tentang baju dan mobil apa yang saya pakai.<br />
  72. Betul, sepanjang tahun saya memakai T shirt abu2 dan mobil yang sangat sederhana. Saya tegaskan, saya bukan orang yang ber-hari2 tidak ganti baju, namun saya membeli banyak T shirt berwarna abu2, saya berusaha menjalani hidup ini sesederhana mungkin, supaya menghemat pikiran dan waktu memutuskan berbagai hal yg tidak penting, Sebab memilih memakai pakaian , makan pagi, dan berbagai hal kecil tsb menyita cukup banyak waktu dan pikiran, saya tidak ingin membuang waktu hanya untuk hal2 kecil tsb, sehingga saya bisa lebih konsentrasi melakukan berbagai hal yang lebih bermanfaat utk masyarakat. Saya memiliki 3 buah mobil, satu Toyota seharga USD 16 ribu, VW golf seharga USD 18 ribu dan Chevrolet TSX seharga USD 30 ribu.<br />
  73. Setelah facebook go public, saya ganti VW GTI seharga USD 30 ribu. Saya berpendapat, mobil hanya sebuah alat transportasi, tidak perlu yang mahal2.<br />
  74. Saya tidak memakai berbagai barang branded, yang penting saya merasa nyaman, mengapa butuh barang2 yang berlebihan? Kalau yang menyangkut kebutuhan berlebihan, justru otak, perasaan sendiri lebih butuh diutamakan.<br />
  75. Kata bijak chinese zaman dulu, manusia harus menaklukkan benda bukan ditaklukkan benda , maksudnya adalah, berbagai materi kehidupan untuk digunakan/dikendalikan manusia, bukan sebaliknya, saya sangat setuju dgn pemikiran tsb.</p>
  76. <p>Saya sangat salut ucapan yang pernah diucapkan Mandella yaitu jiwa saya adalah pemimpin saya, nasib saya dikendalikan oleh diri saya sendiri . Makanya saya tidak gila branded, tidak ada manfaatnya dan sangat tidak masuk akal.</p>
  77. <p>Apa yang ada dalam hati itulah yang ada di dunia kenyataan, percayalah bahwa dunia ini adalah alam semesta yang indah, jika anda tidak percaya, anda tidak akan bisa memiliki dunia/alam semesta yang indah, tidak akan memiliki kehidupan yang indah dan penuh kedamaian. Hal tsb diatas merupakan keyakinan saya dan Priscilla.<br />
  78. Akhir kata, bila ada yang tidak berkenan, mohon petunjuk! Anda bisa tinggalkan pesan utk saya. Terima kasih telah luangkan waktu mendengar yang saya sampaikan.<br />
  79. Terima kasih.</p>
  80. <p>Salam, Mark Zuckerberg.</p>
  81. <p>If you agree, Please share and get blessing, GBU</p>
  82. ]]></content>
  83. <link rel="replies" type="text/html" href="http://krenungan.org/wordpress/2015/12/21/mark-zuckerberg-speech/#comments" thr:count="0"/>
  84. <link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://krenungan.org/wordpress/2015/12/21/mark-zuckerberg-speech/feed/atom/" thr:count="0"/>
  85. <thr:total>0</thr:total>
  86. </entry>
  87. <entry>
  88. <author>
  89. <name>Administrator</name>
  90. </author>
  91. <title type="html"><![CDATA[PELAYANAN = PENGHASILAN]]></title>
  92. <link rel="alternate" type="text/html" href="http://krenungan.org/wordpress/2015/12/21/pelayanan-penghasilan/" />
  93. <id>http://krenungan.org/wordpress/?p=609</id>
  94. <updated>2015-12-21T02:41:45Z</updated>
  95. <published>2015-12-21T02:41:45Z</published>
  96. <category scheme="http://krenungan.org/wordpress" term="P" /> <summary type="html"><![CDATA[Suatu ketika, Harvey Mackay sedang menunggu antrian taksi di sebuah bandara. Kemudian, sebuah taksi mengkilap muncul dan mendekatinya. Sang supir taksi pun keluar dengan berpakaian rapi, dan segera membukakan pintu penumpang. Sang supir kemudian memberi Harvey sebuah kartu dan berkata, &#8220;Nama saya Wally. Sementara saya memasukkan barang bawaan ke bagasi, silakan membaca pernyataan misi saya. [&#8230;]]]></summary>
  97. <content type="html" xml:base="http://krenungan.org/wordpress/2015/12/21/pelayanan-penghasilan/"><![CDATA[<p>Suatu ketika, Harvey Mackay sedang menunggu antrian taksi di sebuah bandara. Kemudian, sebuah taksi mengkilap muncul dan mendekatinya.</p>
  98. <p>Sang supir taksi pun keluar dengan berpakaian rapi, dan segera membukakan pintu penumpang.</p>
  99. <p>Sang supir kemudian memberi Harvey sebuah kartu dan berkata,<br />
  100. &#8220;Nama saya Wally.</p>
  101. <p>Sementara saya memasukkan barang bawaan ke bagasi, silakan membaca pernyataan misi saya.</p>
  102. <p>Harvey kemudian membaca kartu tersebut, yang tertulis “Misi Wally: Mengantar pelanggan ke tempat tujuan dengan cara tercepat, teraman, dan termurah dalam lingkungan yang bersahabat.”</p>
  103. <p>Harvey sangatlah terkejut, terutama setelah ia melihat bagian dalam taksi yang sangat bersih.</p>
  104. <p>Di belakang kemudi, Wally berkata:</p>
  105. <p>“Apakah Anda ingin kopi? Saya punya yang biasa dan tanpa kafein.”</p>
  106. <p>Harvey pun berkata “Tidak, saya ingin minuman ringan saja.”</p>
  107. <p>dan ternyata, Wally menjawab,<br />
  108. “Tak masalah, saya punya pendingin dengan Coke biasa dan Diet Coke, air, serta jus jeruk.”</p>
  109. <p>Dengan terkagum-kagum, Harvey berkata “Saya mau Diet Coke saja.”</p>
  110. <p>Setelah memberikan Diet Coke, Wally pun kembali menawarkan</p>
  111. <p>“Jika Anda ingin membaca, saya punya The Wall Street Journal, Time, Sports Illustrated dan USA Today.&#8221;</p>
  112. <p>Ketika taksi mulai berjalan, Wally kembali menawarkan radio mana yang ingin didengar oleh Harvey.</p>
  113. <p>Tapi ternyata masih ada lagi; Wally menanyakan apakah AC nya sudah pas dengan pelanggannya tersebut. Selama perjalanan, Harvey pun penasaran.</p>
  114. <p>“Apakah kau selalu melayani pelanggan seperti ini, Wally?” Tanya Harvey.</p>
  115. <p>Wally kelihatan tersenyum dari kaca taksinya.</p>
  116. <p>“Tidak selalu, malah baru di dua tahun terakhir.<br />
  117. Di tahun pertama, saya banyak mengeluh seperti kebanyakan supir taksi.<br />
  118. Kemudian saya mendengar Wayne Dyer di radio yang mengatakan bahwa ia baru saja menulis buku berjudul<br />
  119. ‘You’ll See It When You Believe It’.</p>
  120. <p>Ia mengatakan bahwa jika Anda bangun dan mengharap hal buruk terjadi, maka itu hampir pasti terjadi.<br />
  121. Ia berkata, ‘Berhenti mengeluh! Berbedalah dari pesaing Anda.</p>
  122. <p>Jangan menjadi bebek.<br />
  123. Jadilah elang&#8230;</p>
  124. <p>Bebek menguik dan mengeluh.<br />
  125. Elang membumbung tinggi di angkasa.</p>
  126. <p>Hal ini menohok saya. Ia sedang membicarakan saya, jadi saya mengubah sikap dan memilih untuk menjadi elang. Saya melihat supir taksi lain, dan saya melihat bahwa mobil mereka kotor, mereka tidak ramah, dan pelanggan mereka tidak senang.<br />
  127. Jadi saya memutuskan untuk membuat perubahan sedikit demi sedikit. Ketika pelanggan suka, saya meningkatkannya.”</p>
  128. <p>“Pasti kau sudah merasakan manfaatnya”, kata Harvey.<br />
  129. &#8220;Tentu saja,&#8221; Jawab Wally.<br />
  130. &#8220;Di tahun pertama saya sebagai elang, penghasilan saya naik dua kali lipat. Tahun ini mungkin menjadi empat kali lipat. Anda beruntung bisa mendapatkan saya hari ini. Saya tak menunggu di pangkalan lagi. Pelanggan saya menelpon saya atau meninggalkan pesan di mesin penjawab. Jika saya tak bisa menjemput mereka sendiri, saya meminta bantuan teman saya.”</p>
  131. <p>Cerita Wally memang sangat inspiratif. Ia memberi layanan sebuah limo dari sebuah taksi, melipatgandakan penghasilan, karena ia memilih untuk menjadi elang dan bukannya bebek yang mengeluh.</p>
  132. <p>Semoga bermanfaat..</p>
  133. <p>Keep Fight,<br />
  134. Never Give Up&#8230;!</p>
  135. ]]></content>
  136. <link rel="replies" type="text/html" href="http://krenungan.org/wordpress/2015/12/21/pelayanan-penghasilan/#comments" thr:count="0"/>
  137. <link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://krenungan.org/wordpress/2015/12/21/pelayanan-penghasilan/feed/atom/" thr:count="0"/>
  138. <thr:total>0</thr:total>
  139. </entry>
  140. <entry>
  141. <author>
  142. <name>Administrator</name>
  143. </author>
  144. <title type="html"><![CDATA[TRUK SAMPAH]]></title>
  145. <link rel="alternate" type="text/html" href="http://krenungan.org/wordpress/2015/11/30/truk-sampah/" />
  146. <id>http://krenungan.org/wordpress/?p=606</id>
  147. <updated>2015-11-30T15:49:48Z</updated>
  148. <published>2015-11-30T15:49:48Z</published>
  149. <category scheme="http://krenungan.org/wordpress" term="T" /> <summary type="html"><![CDATA[Suatu hari saya naik taxi menuju ke Bandara. Taxi melaju pada jalur yang benar, ketika tiba2 sebuah mobil hitam melompat keluar dari tempat parkir tepat di depan kami, Supir taxi menginjak pedal rem dalam2 hingga ban mobil berdecit dan berhenti hanya beberapa cm dari mobil tsb. Pengemudi mobil hitam yg ngawur tsb mengeluarkan kepalanya &#038; [&#8230;]]]></summary>
  150. <content type="html" xml:base="http://krenungan.org/wordpress/2015/11/30/truk-sampah/"><![CDATA[<p>Suatu hari saya naik taxi menuju ke Bandara. Taxi melaju pada jalur yang benar, ketika tiba2 sebuah mobil hitam melompat keluar dari tempat parkir tepat di depan kami, Supir taxi menginjak pedal rem dalam2 hingga ban mobil berdecit dan berhenti hanya beberapa cm dari mobil tsb.</p>
  151. <p>Pengemudi mobil hitam yg ngawur tsb mengeluarkan kepalanya &#038; memaki maki ke arah kami. Supir taxi hanya tersenyum &#038; melambai pada orang tersebut. Saya sangat heran dan aneh dg sikapnya itu.</p>
  152. <p>Saya pun bertanya, &#8220;Mengapa anda tidak marah bahkan tersenyum? Bukankah orang itu hampir merusak mobil anda dan dapat saja mengirim kita ke rumah sakit?&#8221;</p>
  153. <p>Ia menjelaskan, &#8220;Banyak orang seperti truk sampah. Mereka berjalan keliling membawa sampah, seperti kemarahan, kekecewaan, frustasi dan emosi negatif lainnya.<br />
  154. Seiring dg semakin penuh bak sampahnya, semakin mereka membutuhkan tempat untuk membuangnya &#038; seringkali mereka membuangnya kepada anda.<br />
  155. Jangan ambil hati, tersenyum saja, lambaikan tangan, lalu lanjutkan hidup anda.<br />
  156. Jangan ambil sampah mereka untuk kembali membuangnya kepada orang lain yg anda temui di tempat kerja, di rumah atau dalam perjalanan.&#8221;</p>
  157. <p>Saat itulah saya belajar dari supir taxi itu mengenai apa yg saya kemudian sebut &#8220;Hukum Truk Sampah&#8221;.</p>
  158. <p>Intinya, orang yg bertekad hidup bahagia adalah orang yg tidak membiarkan &#8220;truk sampah&#8221; mengambil alih hari2 mereka dgn merusak suasana hati.</p>
  159. <p>Sahabatku,<br />
  160. Hidup itu 10% mengenai apa yg anda buat dengannya, dan 90% tentang bagaimana anda menyikapinya &#8230;</p>
  161. <p>Kamu punya pilihan, mengabaikan hal2 yg bisa membuat kita badmood, atau meladeninya dann kita merusak hari kita yg nyaman.</p>
  162. <p>Hidup ini jangan diisi dg penyesalan.<br />
  163. Cintailah orang yg memperlakukan kita dg benar, maafkanlah orang yg memperlakukan kita dgn tidak benar..</p>
  164. <p>Selamat berakhir pekan,<br />
  165. Tetaplah menjadi Baik sampai Akhir.</p>
  166. ]]></content>
  167. <link rel="replies" type="text/html" href="http://krenungan.org/wordpress/2015/11/30/truk-sampah/#comments" thr:count="0"/>
  168. <link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://krenungan.org/wordpress/2015/11/30/truk-sampah/feed/atom/" thr:count="0"/>
  169. <thr:total>0</thr:total>
  170. </entry>
  171. <entry>
  172. <author>
  173. <name>Administrator</name>
  174. </author>
  175. <title type="html"><![CDATA[KISAH NYATA : Semangkuk Nasi Putih]]></title>
  176. <link rel="alternate" type="text/html" href="http://krenungan.org/wordpress/2015/11/03/kisah-nyata-semangkuk-nasi-putih/" />
  177. <id>http://krenungan.org/wordpress/?p=603</id>
  178. <updated>2015-11-03T10:18:21Z</updated>
  179. <published>2015-11-03T10:18:21Z</published>
  180. <category scheme="http://krenungan.org/wordpress" term="K" /> <summary type="html"><![CDATA[Cerita ini berdasarkan kisah nyata yang terjadi di negri Tiongkok. Pada sebuah senja dua puluh tahun yang lalu, terdapat seorang pemuda yang kelihatannya seperti seorang mahasiswa berjalan mondar mandir didepan sebuah rumah makan cepat saji di kota metropolitan, menunggu sampai tamu direstoran sudah agak sepi, dengan sifat yang segan dan malu-malu dia masuk kedalam restoran [&#8230;]]]></summary>
  181. <content type="html" xml:base="http://krenungan.org/wordpress/2015/11/03/kisah-nyata-semangkuk-nasi-putih/"><![CDATA[<p>Cerita ini berdasarkan kisah nyata yang terjadi di negri Tiongkok. Pada sebuah senja dua puluh tahun yang lalu, terdapat seorang pemuda yang kelihatannya seperti seorang mahasiswa berjalan mondar mandir didepan sebuah rumah makan cepat saji di kota metropolitan, menunggu sampai tamu direstoran sudah agak sepi, dengan sifat yang segan dan malu-malu dia masuk kedalam restoran tersebut.</p>
  182. <p>Kemudian pemuda itu berkata: “Tolong sajikan saya semangkuk nasi putih”; dengan kepala menunduk pemuda ini berkata kepada pemilik rumah makan.</p>
  183. <p>Sepasang suami istri muda pemilik rumah makan, memperhatikan pemuda ini hanya meminta semangkuk nasi putih dan tidak memesan lauk apapun, lalu menghidangkan semangkuk penuh nasi putih untuknya.</p>
  184. <p>Ketika pemuda ini menerima nasi putih dan sedang membayar lalu berkata dengan pelan: “dapatkah menyiram sedikit kuah sayur diatas nasi saya.”</p>
  185. <p>Istri pemilik rumah berkata sambil tersenyum:”Ambil saja apa yang engkau suka, tidak perlu bayar !”<br />
  186. Sebelum habis makan, pemuda ini berpikir:” kuah sayur gratis.”</p>
  187. <p>Lalu memesan semangkuk lagi nasi putih.<br />
  188. ” Semangkuk tidak cukup anak muda, kali ini saya akan berikan lebih banyak lagi nasinya.”</p>
  189. <p>Dengan tersenyum ramah pemilik rumah makan berkata kepada pemuda ini.<br />
  190. “Bukan, saya akan membawa pulang, besok akan membawa ke sekolah sebagai makan siang saya !”</p>
  191. <p>Mendengar perkataan pemuda ini, pemilik rumah makan berpikir pemuda ini tentu dari keluarga miskin di luar kota, demi menuntut ilmu datang kekota, mencari uang sendiri untuk sekolah, kesulitan dalam keuangan itu sudah pasti.</p>
  192. <p>Berpikir sampai disitu pemilik rumah makan lalu menaruh sepotong daging dan sebutir telur disembunyikan dibawah nasi, kemudian membungkus nasi tersebut sepintas terlihat hanya sebungkus nasi putih saja dan memberikan kepada pemuda ini.</p>
  193. <p>Melihat perbuatannya, istrinya mengetahui suaminya sedang membantu pemuda ini, hanya dia tidak mengerti, kenapa daging dan telur disembunyikan dibawah nasi?</p>
  194. <p>Suaminya kemudian membisik kepadanya :”Jika pemuda ini melihat kita menaruh lauk di nasinya dia tentu akan merasa bahwa kita bersedekah kepadanya, harga dirinya pasti akan tersinggung lain kali dia tidak akan datang lagi, jika dia ketempat lain hanya membeli semangkuk nasi putih, mana ada gizi untuk bersekolah.”</p>
  195. <p>“Engkau sungguh baik hati, sudah menolong orang masih menjaga harga dirinya.”</p>
  196. <p>“Jika saya tidak baik, apakah engkau akan menjadi istriku ?”</p>
  197. <p>Sepasang suami istri muda ini merasa gembira dapat membantu orang lain.<br />
  198. “Terima kasih, saya sudah selesai makan.”</p>
  199. <p>Pemuda ini pamit kepada mereka.<br />
  200. Ketika dia mengambil bungkusan nasinya, dia membalikan badan melihat dengan pandangan mata berterima kasih kepada mereka.</p>
  201. <p>“Besok singgah lagi, engkau harus tetap bersemangat !” katanya sambil melambaikan tangan, dalam perkataannya bermaksud mengundang pemuda ini besok jangan segan-segan datang lagi.</p>
  202. <p>Sepasang mata pemuda ini berkaca-kaca terharu, mulai saat itu setiap sore pemuda ini singgah ke rumah makan mereka, sama seperti biasa setiap hari hanya memakan semangkuk nasi putih dan membawa pulang sebungkus untuk bekal keesokan hari.</p>
  203. <p>Sudah pasti nasi yang dibawa pulang setiap hari terdapat lauk berbeda yang tersembunyi setiap hari, sampai pemuda ini tamat, selama 20 tahun pemuda ini tidak pernah muncul lagi.</p>
  204. <p>Pada suatu hari, ketika suami ini sudah berumur 50 tahun lebih, pemerintah melayangkan sebuah surat bahwa rumah makan mereka harus digusur, tiba-tiba kehilangan mata pencaharian dan mengingat anak mereka yang disekolahkan diluar negeri yang perlu biaya setiap bulan membuat suami istri ini berpelukan menangis dengan panik.</p>
  205. <p>Pada saat ini masuk seorang pemuda yang memakai pakaian bermerek kelihatannya seperti direktur dari kantor bonafid.<br />
  206. “Apa kabar? Saya adalah wakil direktur dari sebuah perusahaan, saya diperintah oleh direktur kami mengundang kalian membuka kantin di perusahaan kami, perusahaan kami telah menyediakan semuanya kalian hanya perlu membawa koki dan keahlian kalian kesana, keuntungannya akan dibagi 2 dengan perusahaan.”</p>
  207. <p>“Siapakah direktur diperusahaan kamu ? Mengapa begitu baik terhadap kami? Saya tidak ingat mengenal seorang yang begitu mulia !” sepasang suami istri ini berkata dengan terheran.</p>
  208. <p>“Kalian adalah penolong dan kawan baik direktur kami, direktur kami paling suka makan telur dan dendeng buatan kalian, hanya itu yang saya tahu, yang lain setelah kalian bertemu dengannya dapat bertanya kepadanya.”</p>
  209. <p>Akhirnya, pemuda yang hanya memakan semangkuk nasi putih ini muncul, setelah bersusah payah selama 20 tahun akhirnya pemuda ini dapat membangun kerajaaan bisnisnya dan sekarang menjadi seorang direktur yang sukses.</p>
  210. <p>Dia merasa kesuksesan pada saat ini adalah berkat bantuan sepasang suami istri ini, jika mereka tidak membantunya dia tidak mungkin akan dapat menyelesaikan kuliahnya dan menjadi sesukses sekarang.</p>
  211. <p>Setelah berbincang-bincang, suami istri ini pamit hendak meninggalkan kantornya. Pemuda ini berdiri dari kursi direkturnya dan dengan membungkuk dalam-dalam berkata kepada mereka:”bersemangat ya ! dikemudian hari perusahaan tergantung kepada kalian, sampai bertemu besok !”</p>
  212. <p>Kebaikan hati dan balas budi selamanya dalam kehidupan manusia adalah suatu perbuatan indah dan yang paling mengharukan. Jangan lupa Like dan Share ya..</p>
  213. ]]></content>
  214. <link rel="replies" type="text/html" href="http://krenungan.org/wordpress/2015/11/03/kisah-nyata-semangkuk-nasi-putih/#comments" thr:count="0"/>
  215. <link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://krenungan.org/wordpress/2015/11/03/kisah-nyata-semangkuk-nasi-putih/feed/atom/" thr:count="0"/>
  216. <thr:total>0</thr:total>
  217. </entry>
  218. <entry>
  219. <author>
  220. <name>Administrator</name>
  221. </author>
  222. <title type="html"><![CDATA[Bukan Tuhan Tidak Mau Mendengar. Kadang Dia Hanya Ingin Kita Bersabar]]></title>
  223. <link rel="alternate" type="text/html" href="http://krenungan.org/wordpress/2015/10/30/bukan-tuhan-tidak-mau-mendengar-kadang-dia-hanya-ingin-kita-bersabar/" />
  224. <id>http://krenungan.org/wordpress/?p=600</id>
  225. <updated>2015-10-30T05:07:48Z</updated>
  226. <published>2015-10-30T05:07:01Z</published>
  227. <category scheme="http://krenungan.org/wordpress" term="B" /> <summary type="html"><![CDATA[Belakangan rasanya mudah sekali menyalahkan tangan semesta atas semua yang terjadi. Pekerjaan yang makin jahanam dari hari ke hari, urusan hati yang belum juga selesai sampai hari ini, juga soal impian membahagiakan orangtua yang ternyata membutuhkan peluh dan presisi tingkat tinggi. Saat otak sedang penuh-penuhnya, mudah saja untuk bertanya: Tuhan di mana? Apakah Dia tidak [&#8230;]]]></summary>
  228. <content type="html" xml:base="http://krenungan.org/wordpress/2015/10/30/bukan-tuhan-tidak-mau-mendengar-kadang-dia-hanya-ingin-kita-bersabar/"><![CDATA[<p>Belakangan rasanya mudah sekali menyalahkan tangan semesta atas semua yang terjadi. Pekerjaan yang makin jahanam dari hari ke hari, urusan hati yang belum juga selesai sampai hari ini, juga soal impian membahagiakan orangtua yang ternyata membutuhkan peluh dan presisi tingkat tinggi.</p>
  229. <p>Saat otak sedang penuh-penuhnya, mudah saja untuk bertanya:</p>
  230. <p>    Tuhan di mana? Apakah Dia tidak tahu kita kalang kabut di sini dan memilih menutup mata?</p>
  231. <p>Premis sederhana ini memang terdengar klasik sekali. Tapi jika mau percaya dan mengamini, hidup akan jauh lebih ringan dijalani.</p>
  232. <p>    Tuhan selalu ada. Dia bersama kita. Kadang Dia cuma mau kita bersabar saja.</p>
  233. <p>Tidak langsung diberi saja kita masih malas-malasan mengabdi. Sebenarnya Tuhan memberi waktu tunggu agar kita meresapi<br />
  234. Kalau mau, bisa saja Ia langsung mewujudkan semua yang kita minta. Toh tidak ada yang sulit bagiNya. Proses skripsi yang panjang dan berliku bisa di skip dan dimudahkan saat itu. Perjalanan mencari jodoh yang membuat kita lelah dan tergopoh bisa ia jadikan manis seperti saat kita menjajal renyahnya salak pondoh.</p>
  235. <p>Tapi mari kita berkaca saja. Sebagai Hamba, bukankah ada sifat brengsek yang kita punya? Tidak langsung dikabulkan permohonannya saja kadang kita malas mendatangiNya saban hari. Menjumpainya 5 kali dalam sehari, bahkan memujanya di akhir minggu kadang berat dijalani. Yeah, manusia memang dibekali dengan rasa mampu dan kurang tahu diri.</p>
  236. <p>Jika mau melongok sedikit dalam lagi, waktu tunggu antara doa dan pengabulan sebenarnya jadi momen terbaik untuk meresapi. Di masa kita khusyuk tunduk, kita mengerti bahwa Ia selalu balas memeluk. Saat malam dihabiskan dengan doa-doa panjang, kita sadar bahwa ke manapun pergi; senakal apapun kita Dia hanya mau kita pulang.</p>
  237. <p>Saat kita datang melangkah, Ia selalu menghampiri dengan berlari. Tak sedetik pun Ia biarkan kita seperti anak ayam yang kehilangan navigasi<br />
  238. Jika Ibu saja selalu punya naluri, bukankah tak mungkin Ibu dari semesta memandang kita yang kebingungan tanpa hati? Walau kadang tak melulu mengabulkan doa yang sudah dipanjatkan tanpa henti, tapi picing matanya tak pernah pergi. Ia seperti sahabat baik yang tumbuh bersama dan selalu di sisi.</p>
  239. <p>KehadiranNya memang tak selalu terasa. Atau memang kita saja yang kurang peka sebagai manusia. Namun jika mau bersahabat dengan damai dan senyap sedikit saja — kita akan tahu ia ada.</p>
  240. <p>Ia kerap menjelma dalam nasihat kedua orangtuamu. KeinginanNya kadang dititipkan pada cecaran dosen pembimbing skripsi dalam lembar revisimu. PetunjukNya jadi backsound tak terdegar di belakang obrolan ringan bersama kawan-kawanmu. Menunggu hatimu cukup peka menjemputnya di situ.</p>
  241. <p>Ia tak selalu kelihatan di sisi. Namun ia tak pernah membiarkan kita berteriak ‘Mayday’ karena kehilangan navigasi.</p>
  242. <p>Ia mendengar. HatiNya bergetar. Namun Ia hanya ingin kita bersabar<br />
  243. Tak terbayang rasanya jadi Dia. Tiap waktu mendengar permohonan, kemudian mengkotak-kotakkannya dalam:</p>
  244. <p>    Diwujudkan<br />
  245.    Ditangguhkan<br />
  246.    Diganti yang lebih sepadan</p>
  247. <p>HatiNya tentu tak nyaman menolak keinginan. Bukankah cintaNya tak perlu lagi dipertanyakan? Apakah enak menolak permintaan sederhana dari mereka yang kebaikannya selalu diutamakan?</p>
  248. <p>Setiap permohonan tersampaikan, percayalah jika hatiNya bergetar. TelingaNya mendekat — tak ada ucap yang tidak tersambar.</p>
  249. <p>Jika bijak tentulah ia sudah memencet tombol approve untuk semua permintaan. Namun dia lebih mengerti, bahwa kita-kita ini butuh jeda agar menghargai hal yang diwujudkan. Ia ingin kita bermesra, sering-sering mengunjungiNya meski dengan pretensi di baliknya. Baginya tak apa tarik ulur sedikit, pakai umpan dan pancing agar terasa seru sedikit. Yang jelas kesabaran ini akan berbuah manis, tanpa sakit.</p>
  250. <p><a href="http://www.hipwee.com/author/monik/">Nendra Rengganis</a> | Sep 21, 2015 </p>
  251. ]]></content>
  252. <link rel="replies" type="text/html" href="http://krenungan.org/wordpress/2015/10/30/bukan-tuhan-tidak-mau-mendengar-kadang-dia-hanya-ingin-kita-bersabar/#comments" thr:count="0"/>
  253. <link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://krenungan.org/wordpress/2015/10/30/bukan-tuhan-tidak-mau-mendengar-kadang-dia-hanya-ingin-kita-bersabar/feed/atom/" thr:count="0"/>
  254. <thr:total>0</thr:total>
  255. </entry>
  256. <entry>
  257. <author>
  258. <name>Administrator</name>
  259. </author>
  260. <title type="html"><![CDATA[IBU]]></title>
  261. <link rel="alternate" type="text/html" href="http://krenungan.org/wordpress/2015/10/07/ibu/" />
  262. <id>http://krenungan.org/wordpress/?p=596</id>
  263. <updated>2015-10-07T03:41:26Z</updated>
  264. <published>2015-10-07T03:41:26Z</published>
  265. <category scheme="http://krenungan.org/wordpress" term="I" /> <summary type="html"><![CDATA[Sarlito Wirawan Sarwono Beberapa waktu yang lalu, saya singgah ke salah satu mal di Jakarta Selatan yang banyak gerai komputernya. Saya hendak membeli tinta printer. Maka saya masuk ke salah satu gerai yang menjual asesoris komputer. Gerai itu ditunggui oleh seorang ibu yang (saya duga) pemiliknya sendiri, seorang pegawai wanita, dan seorang anak laki-laki berumur [&#8230;]]]></summary>
  266. <content type="html" xml:base="http://krenungan.org/wordpress/2015/10/07/ibu/"><![CDATA[<p>Sarlito Wirawan Sarwono</p>
  267. <p>Beberapa waktu yang lalu, saya singgah ke salah satu mal di Jakarta Selatan yang banyak gerai komputernya. Saya hendak membeli tinta printer. Maka saya masuk ke salah satu gerai yang menjual asesoris komputer.</p>
  268. <p>Gerai itu ditunggui oleh seorang ibu yang (saya duga) pemiliknya sendiri, seorang pegawai wanita, dan seorang anak laki-laki berumur 5 tahunan, yang sedang duduk di meja kasir sambil makan nasi dengan santainya. Nampaknya (saya duga juga) anak itu, sebut saja namanya: Minggus (karena kebetulan saat itu hari Minggu) adalah anak pemilik gerai yang saya sebut saja namanya: Manggus (Mamanya Minggus). Sedangkan sang pegawai saya panggil: mbak (saya memang memanggilnya “mbak”, seperti lazimnya orang memanggil setiap wanita muda yang tidak dikenal).</p>
  269. <p>Saya dilayani dengan baik oleh si mbak. Dia mengambilkan tinta printer yang saya maksud dan mempersilakan saya menuuju meja kasir, yang sedang diduduki oleh Minggus. Eeeeh&#8230; melihat saya berdiri di depannya, Minggus ini melotot ke saya, dia gak senang melihat saya di situ. Siapa ini kakek-kakek berwajah Dude Herlino berani-beraninya berdiri di depanku. Begitulah mungkin yang ada di benaknya (saya duga juga). Karena saya pada dasarnya senang pada anak kecil, maka saya tersenyum, sambil bertanya basa-basi, “Kelas berapa, Dik?”. Eeh dia tambah melotot sambil memanyunkan bibirnya. Terus dia beranjak mau mengambil minuman kemasan dari meja yang lain. Karena meja itu terlalu tinggi buat dia, sementara si mbak sedang sibuk membuatkan bon buat saya, dan Bu Manggus juga sedang sibuk nulis-nulis entah apa, saya bantu Minggus mengambilkan satu gelas kemasan air mineral dan sedotannya. Yang membuat saya terkejut (tetapi tetap terenyum, namanya juga psikolog), Minggus merebut air itu dari tangan saya sambil terus melotot. Sementara Bunda Manggus tidak memperhatikan, dan terus saja menulis.</p>
  270. <p>Sesudah merebut air, Minggus mengambil piring nasinya (karena meja kasir ditempati Bundanya untuk melayani saya membayar belanjaan saya) dan meletakannya di lantai dan mulai meneruskan makan dengan santai, sambil salah satu kakinya naik ke atas. Nah, di sinilah terjadi klimaks dari pada drama kecil kehidupan itu. Si Bunda Manggus, tiba-tiba murka besar. “Haai!! Kenapa kamu duduk di bawah. Kaya anak pemulung aja. Sudah enak-enak jadi anak yang bisa makan dikursi, ini malah pengin jadi anak pemulung! Sana masuk!”, hardik si ibu dengan wajah kenceng sambil menunjuk ke pintu gudang di belakang toko (nampaknya ibu itu lupa, bahwa banyak pemulung yang penghasilannya lebih besar dari pada PNS bergelar S1), Minggus tidak bergeming, dia diam saja di tempat. Dia pikir mamanya gak serius. Tetapi mamanya serius. Tambah murka dia, “Ayooo&#8230; masuk!! Kalau nggak, mama tampar, lu!!” dengan menunjukkan gesture (bahasa tubuh) yang benar-benar mau menampar. Maka Minggus cepat-cepat, dengan tubuh merunduk-runduk (seperti anjing kampung yang mau digebuk tuannya) masuk ke ruang gudang.</p>
  271. <p>Setelah situasi kembali aman dan terkendali, barulah Mama Manggus melayani saya dengan ramah tamah, menerima pembayaran saya dengan senum seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Si mbak menyerahkan tinta printer yang sudah dibungkus plastik kresek dan saya pun balik-kanan jalan, kembali ke dunia saya sendiri yang saya rasa lebih aman dan damai dari pada dunianya Minggus.</p>
  272. <p>***</p>
  273. <p>Kak Seto, pernah mengobrol dengan saya tentang KDRT. Dia bilang, korban KDRT yang terbanyak adalah anak-anak, bukan wanita, dan pelakunya adalah ibu kandung sendiri, bukan orang lain, termasuk bukan juga ibu tiri. Ibu tiri jaman sekarang umumnya baik hati, seperti Ashianty Anang (penggemar infotainment tentu kenal Ashianty).</p>
  274. <p>Saya sependapat dengan Kak Seto, karena saya banyak mendapat klien orang tua yang bermasalah dengan anaknya, atau anak yang bermasalah dengan orangtuanya. Ternyata buat para orangtua itu, mendisiplinkan anak, identik dengan kekerasan. Anak SD kelas 1 atau kelas 2, yang masih getol-getolnya bermain, dihardik-hardik untuk belajar. Kalau sudah belajar beberapa saat, mamanya (mama kandung, bukan tiri) nanya-nanyain pelajaran untuk mengecek apakah sudah hafal atau belum. Kalau belum hafal, mama maraaaah banget. Bukan hanya dihardik, tetapi juga dicubit, Makin tidak bisa, makin dicubit, anak nangis (wajarlah nangis, kan sakit tuh dicubit), waaah malah makin menjadi-jadi dicubitinnya, sampai paha anak merah-merah. Bagaimana anak mau belajar dan berpikir, kalau dicubitin terus seperti itu, padahal kan mama maunya anak itu pinter, berarti belajar, berarti berpikir, berarti tidak boleh kesakitan karena pahanya dicubitin.</p>
  275. <p>Itulah yang namanya Reaction Formation dalam psikologi. Ibu cinta pada anaknya, sayang pada anak dan ingin anak jadi pinter, jadi dokter, atau minimal jadi artis, bukannya jadi pemulung. Tetapi dampaknya pada anak malah sebaliknya. Makanya ketika saya tahu bagaimana Manggus memperlakukan Minggus, saya tidak heran ketika Minggus galak kepada saya. Dalam bahasa psikologi itu namanya displacement, yaitu pengalihan sasaran kemarahan dari ibu (yang tidak dibenarkan oleh norma sosial) kepada pihak lain yang dianggap lebih bisa dijadikan sasaran.</p>
  276. <p>Tetapi saya ngeri juga ketika memikirkan betapa banyaknya ibu yang memperlakukan anaknya dengan kejam. Hampir bisa dipastikan anak-anak mereka akan tunmbuh menjadi orang dewasa yang juga kejam tanpa empati. Pada saatnya akan terjadi generasi bangsa Indonesia yang agresif, pemarah, dan tidak berempati. Dan generasi itu sudah mulai terlihat sekarang. Mudah-mudahan para ibu se-Indoneisa menyadari betapa besarnya peran meereka dalam mebentuk watak generasi muda bangsa. Selamat hari Ibu.</p>
  277. <p>Koran SINDO, 22 Desember 2013</p>
  278. ]]></content>
  279. <link rel="replies" type="text/html" href="http://krenungan.org/wordpress/2015/10/07/ibu/#comments" thr:count="0"/>
  280. <link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://krenungan.org/wordpress/2015/10/07/ibu/feed/atom/" thr:count="0"/>
  281. <thr:total>0</thr:total>
  282. </entry>
  283. <entry>
  284. <author>
  285. <name>Administrator</name>
  286. </author>
  287. <title type="html"><![CDATA[ADA BERKAT DIBALIK MASALAH]]></title>
  288. <link rel="alternate" type="text/html" href="http://krenungan.org/wordpress/2015/09/27/ada-berkat-dibalik-masalah/" />
  289. <id>http://krenungan.org/wordpress/?p=592</id>
  290. <updated>2015-09-27T13:07:07Z</updated>
  291. <published>2015-09-27T13:07:07Z</published>
  292. <category scheme="http://krenungan.org/wordpress" term="A" /> <summary type="html"><![CDATA[Orang konyol sering membuat masalah&#8230; Orang &#8220;Kerdil&#8221; memperbesar masalah&#8230;. Orang biasa membicarakan masalah&#8230; Orang besar mengatasi masalah..🐊 Orang bijak bersyukur dengan masalah&#8230;. Orang kreatif melihat peluang dari masalah&#8230;. Orang beriman naik derajat karena masalah&#8230;. Jadi, gak ada masalah dengan &#8220;masalah&#8221;&#8230;. Masalahnya, bagaimana cara kita menyikapi &#8220;masalah&#8221;&#8230;. Karena hakikatnya, hidup itu rangkaian &#8220;masalah&#8221; demi &#8220;masalah&#8221;. Jadi, [&#8230;]]]></summary>
  293. <content type="html" xml:base="http://krenungan.org/wordpress/2015/09/27/ada-berkat-dibalik-masalah/"><![CDATA[<p>Orang konyol sering membuat masalah&#8230;</p>
  294. <p>Orang &#8220;Kerdil&#8221; memperbesar masalah&#8230;.</p>
  295. <p>Orang biasa membicarakan masalah&#8230;</p>
  296. <p>Orang besar mengatasi masalah..<img src="https://s.w.org/images/core/emoji/2.2.1/72x72/1f40a.png" alt="&#x1f40a;" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /><br />
  297. Orang bijak bersyukur dengan masalah&#8230;.</p>
  298. <p>Orang kreatif melihat peluang dari masalah&#8230;.</p>
  299. <p>Orang beriman naik derajat karena masalah&#8230;.</p>
  300. <p>Jadi, gak ada masalah dengan &#8220;masalah&#8221;&#8230;.</p>
  301. <p>Masalahnya, bagaimana cara kita menyikapi &#8220;masalah&#8221;&#8230;.</p>
  302. <p>Karena hakikatnya, hidup itu rangkaian &#8220;masalah&#8221; demi &#8220;masalah&#8221;.</p>
  303. <p>Jadi, Jadikanlah &#8220;MASALAH&#8221; sebagai &#8220;Masa memaknai rencana Allah&#8221;.</p>
  304. <p>Dibalik masalah, Pasti ada Berkat&#8230;<br />
  305. Jadi sikapilah dengan SABAR &#038; BIJAK</p>
  306. <p>Lakukan bagian kita secara maksimal dan biarlah TUHAN melakukan bagianNYA&#8230;<br />
  307. Sekalipun seolah² tiada pertolongan dan jalan keluar dalam masalah dan Pergumulan hidup kita.</p>
  308. <p>MENGALIRLAH SEPERTI AIR dan JANGAN BERONTAK MENYALAHKAN TUHAN.</p>
  309. <p>Karena manusia hanya mengetahui apa yang di depan mata, Tetapi TUHAN MENGETAHUI JAUH KEDEPAN TENTANG RENCANA YANG INDAH BAGI MEREKA YANG MENGASIHI DIA.</p>
  310. <p>BERKAT tak selalu berupa emas, intan permata atau uang banyak&#8230;&#8230;<br />
  311. bukan pula saat kita tinggal dirumah mewah dan pergi bermobil&#8230;&#8230;</p>
  312. <p>Namun BERKAT adalah Saat kita kuat dalam keadaan putus asa&#8230;.,</p>
  313. <p>►Mampu tetap bersyukur ketika tak punya apa-apa&#8230;&#8230;,<br />
  314. ►Mampu tersenyum saat diremehkan&#8230;,<br />
  315. ►Mampu tetap taat walau hidup teramat berat..</p>
  316. <p>&#8220;Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata. Apkh yg akan kamu makan. Apkh. Yg akan kami minum apkh yg kamu pakai..&#8221;<br />
  317. Matius 6:31</p>
  318. <p>Tuhan Yesus memberkati..</p>
  319. ]]></content>
  320. <link rel="replies" type="text/html" href="http://krenungan.org/wordpress/2015/09/27/ada-berkat-dibalik-masalah/#comments" thr:count="0"/>
  321. <link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://krenungan.org/wordpress/2015/09/27/ada-berkat-dibalik-masalah/feed/atom/" thr:count="0"/>
  322. <thr:total>0</thr:total>
  323. </entry>
  324. <entry>
  325. <author>
  326. <name>Administrator</name>
  327. </author>
  328. <title type="html"><![CDATA[Can I Buy An Hour of Your Time?]]></title>
  329. <link rel="alternate" type="text/html" href="http://krenungan.org/wordpress/2015/09/24/can-i-buy-an-hour-of-your-time/" />
  330. <id>http://krenungan.org/wordpress/?p=589</id>
  331. <updated>2015-09-24T02:42:38Z</updated>
  332. <published>2015-09-24T02:42:38Z</published>
  333. <category scheme="http://krenungan.org/wordpress" term="Articles" /> <summary type="html"><![CDATA[SON: &#8220;Daddy, may I ask you a question?&#8221; DAD: &#8220;Yeah sure, what is it?&#8221; SON: &#8220;Daddy, how much do you make an hour?&#8221; DAD: &#8220;That&#8217;s none of your business. Why do you ask such a thing?&#8221; SON: &#8220;I just want to know. Please tell me, how much do you make an hour?&#8221; DAD: &#8220;If you [&#8230;]]]></summary>
  334. <content type="html" xml:base="http://krenungan.org/wordpress/2015/09/24/can-i-buy-an-hour-of-your-time/"><![CDATA[<p>SON: &#8220;Daddy, may I ask you a question?&#8221;<br />
  335. DAD: &#8220;Yeah sure, what is it?&#8221;<br />
  336. SON: &#8220;Daddy, how much do you make an hour?&#8221;<br />
  337. DAD: &#8220;That&#8217;s none of your business. Why do you ask such a thing?&#8221;<br />
  338. SON: &#8220;I just want to know. Please tell me, how much do you make an hour?&#8221;<br />
  339. DAD: &#8220;If you must know, I make $100 an hour.&#8221;<br />
  340. SON: &#8220;Oh! (With his head down).<br />
  341. SON: &#8220;Daddy, may I please borrow $50?&#8221;<br />
  342. The father was furious.<br />
  343. DAD: &#8220;If the only reason you asked that is so you can borrow some money to buy a silly toy or some other nonsense, then you march yourself straight to your room and go to bed. Think about why you are being so selfish. I work hard everyday for such this childish behavior.&#8221;</p>
  344. <p>The little boy quietly went to his room and shut the door.<br />
  345. The man sat down and started to get even angrier about the little boy&#8217;s questions. How dare he ask such questions only to get some money?<br />
  346. After about an hour or so, the man had calmed down, and started to think:<br />
  347. Maybe there was something he really needed to buy with that $ 50 and he really didn&#8217;t ask for money very often. The man went to the door of the little boy&#8217;s room and opened the door.</p>
  348. <p>DAD: &#8220;Are you asleep, son?&#8221;</p>
  349. <p>SON: &#8220;No daddy, I&#8217;m awake&#8221;.<br />
  350. DAD: &#8220;I&#8217;ve been thinking, maybe I was too hard on you earlier. It&#8217;s been a long day and I took out my aggravation on you. Here&#8217;s the $50 you asked for.&#8221;</p>
  351. <p>The little boy sat straight up, smiling.<br />
  352. SON: &#8220;Oh, thank you daddy!&#8221;<br />
  353. Then, reaching under his pillow he pulled out some crumpled up bills. The man saw that the boy already had money, started to get angry again. The little boy slowly counted out his money, and then looked up at his father.</p>
  354. <p>DAD: &#8220;Why do you want more money if you already have some?&#8221;</p>
  355. <p>SON: &#8220;Because I didn&#8217;t have enough, but now I do.</p>
  356. <p>&#8220;Daddy, I have $100 now. Can I buy an hour of your time? Please come home early tomorrow. I would like to have dinner with you.&#8221;<br />
  357. The father was crushed. He put his arms around his little son, and he begged for his forgiveness. It&#8217;s just a short reminder to all of you working so hard in life. We should not let time slip through our fingers without having spent some time with those who really matter to us, those close to our hearts. Do remember to share that $100 worth of your time with someone you love? If we die tomorrow, the company that we are working for could easily replace us in a matter of days. But the family and friends we leave behind will feel the loss for the rest of their lives. And come to think of it, we pour ourselves more into work than to our family.</p>
  358. <p>Some things are more important.</p>
  359. ]]></content>
  360. <link rel="replies" type="text/html" href="http://krenungan.org/wordpress/2015/09/24/can-i-buy-an-hour-of-your-time/#comments" thr:count="0"/>
  361. <link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://krenungan.org/wordpress/2015/09/24/can-i-buy-an-hour-of-your-time/feed/atom/" thr:count="0"/>
  362. <thr:total>0</thr:total>
  363. </entry>
  364. <entry>
  365. <author>
  366. <name>Administrator</name>
  367. </author>
  368. <title type="html"><![CDATA[Qurban]]></title>
  369. <link rel="alternate" type="text/html" href="http://krenungan.org/wordpress/2015/09/23/qurban/" />
  370. <id>http://krenungan.org/wordpress/?p=587</id>
  371. <updated>2015-09-23T16:00:36Z</updated>
  372. <published>2015-09-23T16:00:36Z</published>
  373. <category scheme="http://krenungan.org/wordpress" term="Articles" /> <summary type="html"><![CDATA[Kisah ini dituturkan oleh seorang penjual hewan qurban. Ia tak sanggup menahan tangis saat mengetahui siapa sebenarnya orang yang membeli seekor kambing darinya di hari itu. Ketika Anda membaca kisah ini dengan hati, Anda pun dijamin tak kuasa menahan air mata. Idul adha kian dekat. Kian banyak orang yang mengunjungi stan hewan qurbanku. Sebagian hanya [&#8230;]]]></summary>
  374. <content type="html" xml:base="http://krenungan.org/wordpress/2015/09/23/qurban/"><![CDATA[<p>Kisah ini dituturkan oleh seorang penjual hewan qurban. Ia tak sanggup menahan tangis saat mengetahui siapa sebenarnya orang yang membeli seekor kambing darinya di hari itu. Ketika Anda membaca kisah ini dengan hati, Anda pun dijamin tak kuasa menahan air mata.</p>
  375. <p>Idul adha kian dekat. Kian banyak orang yang mengunjungi stan hewan qurbanku. Sebagian hanya melihat-lihat, sebagian lagi menawar dan alhamdulillah tidak sedikit yang akhirnya membeli. Aku menyukai bisnis ini, membantu orang mendapatkan hewan qurban dan Allah memberiku rezeki halal dari keuntungan penjualan.</p>
  376. <p>Suatu hari, datanglah seorang ibu ke stanku. Ia mengenakan baju yang sangat sederhana, kalau tidak boleh dibilang agak kumal. Dalam hati aku menyangka ibu ini hanya akan melihat-lihat saja. Aku mengira ia bukanlah tipe orang yang mampu berqurban. Meski begitu, sebagai pedagang yang baik aku harus tetap melayaninya.</p>
  377. <p>“Silahkan Bu, ada yang bisa saya bantu?” sapaku seramah mungkin<br />
  378. “Kalau kambing itu harganya berapa, Pak?” tanyanya sambil menunjuk seekor kambing yang paling murah.</p>
  379. <p>“Itu 700 ribu Bu,” tentu saja harga itu bukan tahun ini. Kisah ini terjadi beberapa tahun yang lalu. “Harga pasnya berapa?”<br />
  380. Wah, ternyata ibu itu nawar juga. “Bolehlah 600 ribu, Bu. Itu untungnya sangat tipis. Buat ibu, bolehlah kalau ibu mau”</p>
  381. <p>“Tapi, uang saya Cuma 500 ribu, Pak. Boleh?” kata ibu itu dengan penuh harap. Keyakinanku mulai berubah. Ibu ini benar-benar serius mau berqurban. Mungkin hanya tampilannya saja yang sederhana tapi sejatinya ia bukanlah orang miskin. Nyatanya ia mampu berqurban.</p>
  382. <p>“Baik lah, Bu. Meskipun tidak mendapat untung, semoga ini barakah,” jawabku setelah agak lama berpikir. Bagaimana tidak, 500 ribu itu berarti sama dengan harga beli. Tapi melihat ibu itu, aku tidak tega menolaknya.</p>
  383. <p>Aku pun kemudian mengantar kambing itu ke rumahnya. “Astaghfirullah… Allaahu akbar…” Aku terperanjat. Rumah ibu ini tak lebih dari sebuah gubuk berlantai tanah. Ukurannya kecil, dan di dalamnya tidak ada perabot mewah. Bahkan kursi, meja, barang-barang elektronik, dan kasur pun tak ada. Hanya ada dipan beralas tikar yang kini terbaring seorang nenek di atasnya. Rupanya nenek itu adalah ibu dari wanita yang membeli kambing tadi. Mereka tinggal bertiga dengan seorang anak kecil yang tak lain adalah cucu nenek tersebut.</p>
  384. <p>“Emak, lihat apa yang Sumi bawa” kata ibu yang ternyata bernama Sumi itu. Yang dipanggil Emak kemudian menolehkan kepalanya, “Sumi bawa kambing Mak. Alhamdulillah, kita bisa berqurban”</p>
  385. <p>Tubuh yang renta itu duduk sambil menengadahkan tangan. “Alhamdulillah… akhirnya kesampaian juga Emak berqurban. Terima kasih ya Allah…”</p>
  386. <p>“Ini uangnya Pak. Maaf ya kalau saya nawarnya terlalu murah, karena saya hanya tukang cuci di kampung sini, saya sengaja mengumpulkan uang untuk membeli kambing buat qurban atas nama Emak….” kata Bu Sumi.</p>
  387. <p>Kaki ini bergetar, dada terasa sesak, sambil menahan tetes air mata, saya berdoa dalam hati, “Ya Allah… Ampuni dosa hamba, hamba malu berhadapan dengan hamba-Mu yang pasti lebih mulia ini, seorang yang miskin harta namun kekayaan imannya begitu luar biasa”.</p>
  388. <p>“Pak, ini ongkos kendaraannya…”, panggil ibu itu.<br />
  389. “Sudah bu, biar ongkos kendaraannya saya yang bayar”, jawabku sambil cepat-cepat berpamitan, sebelum Bu Sumi tahu kalau mata ini sudah basah karena karena tak sanggup mendapat teguran dari Allah yang sudah mempertemukan dengan hambaNya yang dengan kesabaran, ketabahan dan penuh keimanan ingin memuliakan orang tuanya.</p>
  390. <p>Untuk menjadi mulia, ternyata tak harus menunggu kaya. Untuk mampu berqurban, ternyata yang dibutuhkan adalah kesungguhan. Kita jauh lebih kaya dari Bu Sumi. Rumah kita bukan gubuk, lantainya keramik. Ada kursi, ada meja, ada perabot hingga TV di rumah kita. Ada kendaraan. Bahkan, HP kita lebih mahal dari harga kambing qurban. Tapi… sudah sungguh-sungguhkah kita mempersiapkan qurban? Masih ada waktu sekitar satu bulan.</p>
  391. <p>Jika kita sebenarnya mampu berqurban, tapi tak mau berqurban, hendaklah kita malu kepada Allah ketika Dia membandingkan kesungguhan kita dengan Bu Sumi. Jika kita sebenarnya mampu berqurban, tapi tak mau berqurban, hendaklah kita takut dengan sabda Rasulullah ini:</p>
  392. <p>مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا</p>
  393. <p>“Barangsiapa yang memiliki kelapangan untuk berqurban namun dia tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami” (HR Ibnu Majah, Ahmad dan Al Hakim)</p>
  394. ]]></content>
  395. <link rel="replies" type="text/html" href="http://krenungan.org/wordpress/2015/09/23/qurban/#comments" thr:count="0"/>
  396. <link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://krenungan.org/wordpress/2015/09/23/qurban/feed/atom/" thr:count="0"/>
  397. <thr:total>0</thr:total>
  398. </entry>
  399. <entry>
  400. <author>
  401. <name>Administrator</name>
  402. </author>
  403. <title type="html"><![CDATA[]]></title>
  404. <link rel="alternate" type="text/html" href="http://krenungan.org/wordpress/2015/09/23/585/" />
  405. <id>http://krenungan.org/wordpress/?p=585</id>
  406. <updated>2015-09-23T12:12:02Z</updated>
  407. <published>2015-09-23T12:12:02Z</published>
  408. <category scheme="http://krenungan.org/wordpress" term="Articles" /> <summary type="html"><![CDATA[Jauhkan Anakmu Dari Kemudahan Seorang mahasiswi mengeluh. Dari SD hingga lulus S-1, ia selalu juara. Namun kini, di program S-2, ia begitu kesulitan menghadapi dosennya yang menyepelekannya. Judul tesisnya selalu ditolak tanpa alasan yang jelas. Kalau jadwal bertemu dibatalkan sepihak oleh dosen, ia sulit menerimanya. Sementara itu, teman-temannya, yang cepat selesai, jago mencari celah. Ia [&#8230;]]]></summary>
  409. <content type="html" xml:base="http://krenungan.org/wordpress/2015/09/23/585/"><![CDATA[<p>Jauhkan Anakmu Dari Kemudahan</p>
  410. <p>Seorang mahasiswi mengeluh. Dari SD hingga lulus S-1, ia selalu juara. Namun kini, di program S-2, ia begitu kesulitan menghadapi dosennya yang menyepelekannya. Judul tesisnya selalu ditolak tanpa alasan yang jelas. Kalau jadwal bertemu dibatalkan sepihak oleh dosen, ia sulit menerimanya.</p>
  411. <p>Sementara itu, teman-temannya, yang cepat selesai, jago mencari celah. Ia menduga, teman-temannya yang tak sepintar dirinya itu “ada main” dengan dosen-dosennya. “Karena mereka tak sepintar aku,” ujarnya.</p>
  412. <p>Banyak orangtua yang belum menyadari, di balik nilai-nilai tinggi yang dicapai anak-anaknya semasa sekolah, mereka menyandang persoalan besar: kesombongan dan ketidakmampuan menghadapi kesulitan. Bila hal ini saja tak bisa diatasi, maka masa depan ekonominya pun akan sulit.</p>
  413. <p>Mungkin inilah yang perlu dilakukan orangtua dan kaum muda: belajar menghadapi realitas dunia orang dewasa, yaitu kesulitan dan rintangan.</p>
  414. <p>Hadiah orangtua</p>
  415. <p>Psikolog Stanford University, Carol Dweck, yang menulis temuan dari eksperimennya dalam buku The New Psychology of Success, menulis, “Hadiah terpenting dan terindah dari orangtua pada anak-anaknya adalah tantangan”.</p>
  416. <p>Ya, tantangan. Apakah itu kesulitan-kesulitan hidup, rasa frustrasi dalam memecahkan masalah, sampai kegagalan “membuka pintu”, jatuh bangun di usia muda. Ini berbeda dengan pandangan banyak orangtua yang cepat-cepat ingin mengambil masalah yang dihadapi anak-anaknya.</p>
  417. <p>Kesulitan belajar mereka biasanya kita atasi dengan mendatangkan guru-guru les, atau bahkan menyuap sekolah dan guru-gurunya. Bahkan, tak sedikit pejabat mengambil alih tanggung jawab anak-anaknya ketika menghadapi proses hukum karena kelalaian mereka di jalan raya.</p>
  418. <p>Kesalahan mereka membuat kita resah. Masalah mereka adalah masalah kita, bukan milik mereka.</p>
  419. <p>Termasuk di dalamnya adalah rasa bangga orangtua yang berlebihan ketika anak-anaknya mengalami kemudahan dalam belajar dibandingkan rekan-rekannya di sekolah.</p>
  420. <p>Berkebalikan dengan pujian yang dibangga-banggakan, Dweck malah menganjurkan orangtua untuk mengucapkan kalimat seperti ini: “Maafkan Ibu telah membuat segala sesuatu terlalu gampang untukmu, Nak. Soal ini kurang menarik. Bagaimana kalau kita coba yang lebih menantang?”</p>
  421. <p>Jadi, dari kecil, saran Dweck, anak-anak harus dibiasakan dibesarkan dalam alam yang menantang, bukan asal gampang atau digampangkan. Pujian boleh untuk menyemangati, bukan membuatnya selalu mudah.</p>
  422. <p>Saya teringat masa-masa muda dan kanak-kanak saya yang hampir setiap saat menghadapi kesulitan dan tantangan. Kata reporter sebuah majalah, saya ini termasuk “bengal”. Namun ibu saya bilang, saya kreatif. Kakak-kakak saya bilang saya bandel. Namun, otak saya bilang “selalu ada jalan keluar dari setiap kesulitan”.</p>
  423. <p>Begitu memasuki dunia dewasa, seorang anak akan melihat dunia yang jauh berbeda dengan masa kanak-kanak. Dunia orang dewasa, sejatinya, banyak keanehannya, tipu-tipunya. Hal gampang bisa dibuat menjadi sulit. Namun, otak saya selalu ingin membalikkannya.</p>
  424. <p>Demikianlah, hal-hal sepele sering dibuat orang menjadi masalah besar.</p>
  425. <p>Banyak ilmuwan pintar, tetapi reaktif dan cepat tersinggung. Demikian pula kalau orang sudah senang, apa pun yang kita inginkan selalu bisa diberikan.</p>
  426. <p>Panggung Orang Dewasa</p>
  427. <p>Dunia orang dewasa itu adalah sebuah panggung besar dengan unfair treatment yang menyakitkan bagi mereka yang dibesarkan dalam kemudahan dan alam yang protektif.</p>
  428. <p>Kemudahan-kemudahan yang didapat pada usia muda akan hilang begitu seseorang tamat SMU.</p>
  429. <p>Di dunia kerja, keadaan yang lebih menyakitkan akan mungkin lebih banyak lagi ditemui.</p>
  430. <p>Fakta-fakta akan sangat mudah Anda temui bahwa tak semua orang, yang secara akademis hebat, mampu menjadi pejabat atau CEO. Jawabannya hanya satu: hidup seperti ini sungguh menantang.</p>
  431. <p>Tantangan-tantangan itu tak boleh membuat seseorang cepat menyerah atau secara defensif menyatakan para pemenang itu “bodoh”, tidak logis, tidak mengerti, dan lain sebagainya.</p>
  432. <p>Berkata bahwa hanya kitalah orang yang pintar, yang paling mengerti, hanya akan menunjukkan ketidakberdayaan belaka. Dan pernyataan ini hanya keluar dari orang pintar yang miskin perspektif, dan kurang menghadapi ujian yang sesungguhnya.</p>
  433. <p>Dalam banyak kesempatan, kita menyaksikan banyak orang-orang pintar menjadi tampak bodoh karena ia memang bodoh mengelola kesulitan. Ia hanya pandai berkelit atau ngoceh-ngoceh di belakang panggung, bersungut-sungut karena kini tak ada lagi orang dewasa yang mengambil alih kesulitan yang ia hadapi.</p>
  434. <p>Di Universitas Indonesia, saya membentuk mahasiswa-mahasiswa saya agar berani menghadapi tantangan dengan cara satu orang pergi ke satu negara tanpa ditemani satu orang pun agar berani menghadapi kesulitan, kesasar, ketinggalan pesawat, atau kehabisan uang.</p>
  435. <p>Namun lagi-lagi orangtua sering mengintervensi mereka dengan mencarikan travel agent, memberikan paket tur, uang jajan dalam jumlah besar, menitipkan perjalanan pada teman di luar negeri, menyediakan penginapan yang aman, dan lain sebagainya. Padahal, anak-anak itu hanya butuh satu kesempatan: bagaimana menghadapi kesulitan dengan caranya sendiri.</p>
  436. <p>Hidup yang indah adalah hidup dalam alam sebenarnya, yaitu alam yang penuh tantangan.</p>
  437. <p>Dan inilah esensi perekonomian abad ke-21: bergejolak, ketidakpastian, dan membuat manusia menghadapi ambiguitas. Namun dalam kondisi seperti itulah sesungguhnya manusia berpikir. Dan ketika kita berpikir, tampaklah pintu-pintu baru terbuka, saat pintu-pintu hafalan kita tertutup.</p>
  438. <p>Jadi inilah yang mengakibatkan banyak sekali orang pintar sulit dalam menghadapi kesulitan.</p>
  439. <p>Maka dari itu, pesan Carol Dweck, dari apa yang saya renungi, sebenarnya sederhana saja: orangtua, jangan cepat-cepat merampas kesulitan yang dihadapi anak-anakmu. Sebaliknya, berilah mereka kesempatan untuk menghadapi tantangan dan kesulitan.</p>
  440. <p>sumber : inspira / rhenald kasali</p>
  441. ]]></content>
  442. <link rel="replies" type="text/html" href="http://krenungan.org/wordpress/2015/09/23/585/#comments" thr:count="0"/>
  443. <link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://krenungan.org/wordpress/2015/09/23/585/feed/atom/" thr:count="0"/>
  444. <thr:total>0</thr:total>
  445. </entry>
  446. </feed>
  447.  

If you would like to create a banner that links to this page (i.e. this validation result), do the following:

  1. Download the "valid Atom 1.0" banner.

  2. Upload the image to your own server. (This step is important. Please do not link directly to the image on this server.)

  3. Add this HTML to your page (change the image src attribute if necessary):

If you would like to create a text link instead, here is the URL you can use:

http://www.feedvalidator.org/check.cgi?url=http%3A//krenungan.org/wordpress/feed/atom/

Copyright © 2002-9 Sam Ruby, Mark Pilgrim, Joseph Walton, and Phil Ringnalda